Lombok Barat – Komuditi jahe merah tumbuh subur dari tangan terampil sekelompok pemuda, dikawasan lereng perbukitan Dusun Tato Desa Sandik Kecamatan Batu Layar Lombok Barat. Tepat sejak pandemi Covid-19 melanda negeri, budidaya jahe merah menjadi mata pencaharian yang menguntungkan bagi warga desa tersebut, khususnya mereka yang kini tidak lagi bekerja karena di PHK (Putus Hubungan Kerja).

Ketua kelompok pemuda, Safwan, mengklaim bahwa produktivitas budidaya jahe merahnya kini semakin baik. Setiap hasil panennya mampu memenuhi pesanan pelanggan dari berbagai daerah, dengan omset yang kembali dikelola untuk peningkatan produktivitas dan mencukupi perekonomian keluarga.

“Jahe merah ini nilai ekonomisnya cukup tinggi, dibandingkan jenis sayuran dan sebagainya. Dan terbukti sehingga memberi pengaruh ke teman – teman lain untuk ikut membudidaya. Hingga sekarang kita sudah punya kelompok budidaya untuk jahe merah ini. Menanam jahe merah ini menjadi salah satu alternatif mencukupi kebutuhan ekonomi teman teman korban PHK karena dampak pandemi Covid-19,” katanya.

Safwan mengaku merintis budidaya jahe merah ini pasca bencana gempa beberapa tahun silam. Dari sebelumnya hanya satu sampai dua batang bibit jahe merah yang ditanam dengan metode hidroponik, ia kini telah memiliki sebidang lahan subur dikawasan lereng bukit untuk ditanami jahe merah bersama kelompok kerja yang dibinanya.

“Saya coba satu kilogram dulu untuk ditanam dihalaman rumah. Setelah delapan bulan tumbuh subur dan siap panen ternyata banyak yang minat. Ada yang datang bertamu ke rumah meminta dan membeli. Waktu itu saya jual perpolibeknya 50ribu. Kemudian tanam di kebun, dengan dorongan teman teman yang akhirnya ikut membantu,” ungkap Safwan.

Tidak hanya dari warga pemuda setempat, sejumlah warga dari daerah lain juga banyak mengunjungi Safwan untuk menimba ilmu tentang kiat suksesnya dalam budidaya jahe merah. Seperti kelompok laskar dan beberapa orang anggota organisasi kemasyarakatan yang dulunya sering berurusan dengan hukum.

Selain itu kiat Safwan dan kelompok taninya juga mendapat dukungan dari para ibu rumah tangga di dusun setempat dengan mengolahnya menjadi minuman segar yang dinilai berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh dari inveksi penyakit. Safwan berharap keselarasan produktivitas usaha yang saling menguntungkan ini, dapat menciptakan perbaikan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warga desa.

“Ibu rumah tangga mengolah jahe merah menjadi minuman Serbat Jahe Merah ala Lombok. Jadi saling menguntungkan sekarang. Harapan kita ketika keselarasan produktivitas ini berjalan baik, jadi hasil panen jahe merah kita tidak keluar, diolah ditempat sendiri sehingga nilai jualnya lebih tinggi,” harapnya.

Sementara itu salah seorang pelaku usaha olahan jahe merah, Yuli, menyebutkan bahwa kiat kelompok pemuda Dusun Tato memberi inspirasi bagi dirinya dan sejumlah ibu rumah tangga lainnya. Dari budidaya jahe merah, hadirlah minuman tradisional serbat yang kini menjadi ladang usaha sampingan bagi mereka.

“Awalnya minuman serbat ini kami konsumsi untuk pribadi sendiri dan keluarga. Ditengah pandemi Covid-19 ini berampak ekonomi bagi kami sehingga serbat dijual untuk dipasarkan,” ucap Yuli.

Yuli adalah satu dari banyak ibu rumah tangga yang memetik manfaat dari budidaya jahe merah di dusunnya. Ia mengaku dari sebelumnya hanya menjual serbat dalam kemasan botol sebanyak 10 hingga 20 botol sehari, kini telah berkembang menjadi 50 botol perhari mengikuti meningkatnya permintaan.

“Setelah berjalan sebulan, dari 20 botol sehari kini sudah menjadi 50 botol sehari dan produksinya sampai sekitar 1.500 botol sebulan,” jelasnya.

Tanpa iklan promosi dan sebagainya, produk minuman Serbat Dusun Tato yang dibandrol dengan harga 7ribu rupiah telah merambah ke sejumlah daerah di Nusa Tenggara Barat. Dan kerap menjadi miniman rutin bagi pekerja kantoran di beberapa instansi dinas. Yuli mengatakan bahwa produk minuman serbat olahannya itu bahkan mampu dipasarkan ke luar daerah, seperti Semarang Jawa Timur.

“Ditengah Pandemi Covid-19 ini, memproduksi minuman serbat ini sangat membantu perekonomian kami,” katanya.

Safwan dan Yuli membuktikan bahwa rempah – rempah hasil alam jika diolah dengan baik akan bernilai ekonomis tinggi. Karenanya diharapkan, langkah menuju kesuksesan mereka menjadi inspirasi bagi warga desa atau dusun lain sehingga tidak terus meratap dirudung dampak pandemi covid-19.

aNd