Oleh : Arfandi Yahya
Ketua Lembaga Pemantau Kebijakan Publik (LPKP) Sumbawa

OPINI – Ketika kita mengambil pilihan untuk menjadi pemimpin, maka saat itu pula kita wakafkan tenaga, pikiran, waktu, materi dan diri kita untuk rakyat.

Saat ini, sudah ditolak oleh zaman, ada pemimpin yang anti kritik, Baperan, sombong, dan angkuh, bayangkan saja kalau pemimpin main lapor, maka tidak ada lagi ruang nasehat dan ruang kritik yang bisa disampaikan oleh rakyat, terutama kaum muda, aktifis dan para intelektual.

Padahal ketika menjadi pemimpin, dia sudah menjadi milik publik, yang selalu siap disoroti, dikritik oleh rakyat. Baik cara dia berpakaian, celana, sandal yang dia pakai, cara dia bertutur, bahkan harta kekayaannya berapa, dia dapat dari mana, semua akan menjadi hak publik untuk menilai dan mengkritisinya.

Pemimpin yang “baperan” ini bahaya, karena dia akan cenderung menggunakan kekuasaannya menekan segala kritikan rakyat, akan cenderung otoriter, refresif dan akan melakukan kriminalisasi terhadap siapa saja yang tidak sejalan dan tidak sepemikiran dengan dia.

Sumbawa kedepan kita membutuhkan pemimpin yang baik hatinya, pemimpin yang mau mendengar, pemimpin yang menerima kritikan dengan hati yang lapang, pemimpin yang menerima perbedaan dengan senyuman, pemimpin yang sadar bahwa membangun Sumbawa tidak bisa sendiri, harus ada sinergi dan bersama-sama dengan semua pihak. Sumbawa kedepan membutuhkan pemimpin yang memimpin dengan hati, Insya Allah.

(4)Mo-Novi // BARU