Tagana menjadi garda depan kemanusiaan dalam bencana

Mataram – Kepala Dinas Sosial NTB, H. Ahsanul Khalik, S. Sos, MH, mengingatkan para pekerja sosial, utamanya pilar-pilar sosial yang ada di NTB agar menjadikan momentum peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) pada 19 Agustus 2020 ini untuk terus berbuat dan bekerja dengan landasan kemanusiaan, para pilar sosial adalah insan sosial kemanusiaan yang dalam darahnya sudah mengalir sifat dan sikap kemanusiaan.

“Kiranya momentum ini bisa menjadikan motivasi dan semangat untuk berbuat lebih banyak atas nama kemanusiaan,” ujar Khalik tentang makna Hari Kemanusian bagi para pekerja sosial.

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia dilakukan selain untuk memperingati mereka yang kehilangan nyawa dalam melakukan upaya kemanusiaan, juga untuk membangun kesadaran publik mengenai urusan kemanusiaan serta upaya kemanusiaan yang dapat dilakukan setiap orang. Karena itu, setiap orang dapat menjadi pelaku kemanusiaan dan bermanfaat bagi orang yang membutuhkan bantuan.

Tanggal 19 Agustus menandai hari terjadinya pengeboman di kantor pusat PBB di Baghdad, Irak yang menewaskan 22 orang relawan kemanusiaan. Untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bantuan kemanusiaan sedunia dan orang-orang yang menaruh hidup mereka dalam resiko demi memberikan pelayanan kemanusiaan, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia (HKS) pada 2008.

“Begitu pula dalam menghadapi bencana, kita tidak bisa mengelak lagi, yang harus dilakukan yakni mereduksi kemungkinan resiko bencana, membangun antisipasi dini masyarakat di daerah-daerah rawan bencana dan dengan peta yang tersedia,” ucap Khalik.

Karenanya secara khusus saya mengingatkan kepada Taruna Siaga Bencana (TAGANA), karena NTB adalah daerah yang rawan bencana, maka Pos komando (posko) sebagai pusat pengendalian dan pengawasan sekaligus wadah koordinasi berbagai pihak menjadi penting untuk dipahami dan diaktifkan oleh Tagana. Untuk itulah kepada semua personil Tagana harus terus meningkatkan kapasistas dirinya dan memahami bahwa jati diri Tagana sebagai relawan kemanusian harus tertanam subur dalam jiwa para anggota Tagana.

Menjadi Tagana bukan sekedar bangga, bergaya dengan pakaian dan berbagai atribut mentereng yang melekat pada lambang yang menempel di seragam, tapi lebih dari itu pada lambang-lambang tersebut ada pesan kemanusiaan untuk berbuat secara sukarela cepat dan tepat untuk mengurangi beban derita orang lain yang sedang menjadi korban bencana.

Khalik juga mengingatkan, sejalan dengan peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia, menjadi penting bagi Tagana untuk membangun jejaring sosial untuk menguatkan kerja sama dengan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana melalui posko, dan menunjukkan kepada dunia sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan.

“Posko kita di NTB ada di Dinas Sosial di Provinsi dan seluruh Dians Sosial Kabupaten/Kota se- NTB adalah sebagai pendukung utama dalam melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana alam. Melalui posko ini data kejadian bencana beserta dampaknya dapat diperoleh secara cepat dan tepat. Karenanya Tagana dengan seluruh pilar sosial yang ada di NTB harus bersatu padu,” pungkasnya.

dSos