Mataram – Seorang oknum dosen di Fakultas Hukum disalah satu perguruan tinggi Negeri di Mataram Nusa Tenggara Barat, diduga cabuli mahasiswinya saat melakukan kegiatan konsultasi pra skripsi. Kasus itu terungkap, setelah pihak keluarga dari mahasiswi tersebut membeberkan perlakuan tidak senonoh dosan pembimbingnya itu kepada pihak kampus, yang diantaranya sejumlah teman dekatnya dan beberapa dosen lain.

Rektor perguruan tinggi tersebut, Prof. Lalu Husni yang dihubungi media enggan berkomentar banyak, ia meminta media menghubungi Wakil Rektor III.

“Masih ada acara, ke WR III saja,” katanya melalui aplikasi pesan instan.

Sementara Dekan Fakultas, Dr. Hirsanuddin, mengatakan kasus tersebut dalam proses verifikasi. Atau dalam artian masih dicari kebenarannya.

“Kami baru dapat informasi tentang masalah tersebut. Kami sekarang sedang melakukan verifikasi terhadap yang bersangkutan terlebih dahulu baru kami bisa informasikan,” ujarnya.

Hirsanuddin mengatakan, pada Senin besok oknum dosen bersangkutan akan dilakukan sidang etik terkait kasus tersebut. Sidang etik akan digelar di kampus setempat secara terbuka.

Lain halnya dengan Ketua Majelis Etik Fakultas, Prof. Zainal Asikin menyarankan agar kasus tersebut dibawa ke aparat penegak hukum, sehingga dari penyidikan hingga hasil putusan pengadilan, Majelis Etik dapat mengeluarkan putusan terhadap oknum dosen tersebut.

Menurut pandanganya norma hukum dengan norma etika sangat berbeda sanksinya. Setiap orang yang melanggar kode etik tidak bisa dihukum dengan norma hukum.

“Kalau pelanggaran kode etik hukuman terberat penurunan pangkat, (dan) pencopotan jabatan sebagai sekretaris jurusan. Kalau mau dihukum pecat maka lihat UU ASN yaitu kalau dihukum pidana dengan ancaman hukuman lima tahun,” katanya.

Namun ia mengatakan akan tetap berikan sanksi maksimal terhadap oknum dosen tersebut. “Insyaallah kita akan kenakan sanksi yang maksimal,” ujarnya.

inFo