Mataram – Pandemi corona berdampak buruk bagi sektor ekonomi secara umum. Namun di balik hal tersebut, juga muncul peluang-peluang usaha baru yang bertumbuh di sektor UMKM/IKM NTB.

Ketua Dekranasda NTB, Hj Niken Saptarini Zulkieflimansyah saat menjadi pembicara dalam Seminar Ekonomi Kreatif Pojok NTB di Aston Inn Hotel Mataram pada Kamis (16/7) mengatakan, pola hidup masyarakat yang berubah di tengah pandemi corona bisa menjadi peluang tersendiri bagi UMKM di NTB.

Penetapan protokol kesehatan, pembatasan aktivitas keluar rumah dan keramaian, memiliki dampak merubah secara perlahan ke pola hidup digital atau digital lifestyle.

“Digital lifestyle, dimana sekarang bisa sekolah, bekerja dan beraktivitas di rumah dengan jaringan internet, ini menjadi sisi positif pandemi corona bagi sektor UMKM/IKM termasuk di NTB,” kata Niken.

Ia menjabarkan, secara nasional peluang usaha di masa kenormalan baru terbuka untuk 7 sektor usaha, antara lain aplikasi digital, film dan video, fashion dan desain, kerajinan seni rupa dan pertunjukan, media sosial spesialis, kuliner, dan digital marketing.

Sementara di NTB, peluang itu terbuka untuk setidaknya empat sektor usaha yakni, kuliner, fashion dan desain, kerajinan senirupa, dan digital marketing.

Niken mencontohkan, cukup banyak UMKM kuliner lokal yang justru tumbuh di saat pandemi corona di NTB. Beragam kuliner semakin banyak ditawarkan secara digital melalui Go-Food dari Gojek.

Industri fashion dan kain tenun di NTB juga tercatat mengalami pertumbuhan, kendati pariwisata secara umum tengah melesu.

“Digital lifestyle ini menjadi peluang sehingga pasar yang membutuhkan bisa memesan melalui aplikasi online,” katanya.

Menurut Niken, menuju masa kenormalan baru digital lifestyle tentu menjadi perilaku masyarakat dalam tatanan kehidupan baru. Hal ini harus ditangkap sebagai peluang bagi pelaku usaha di NTB untuk bisa menembus pasar nasional.

Diketahui data tahun 2019 di NTB tercatat sebanyak 645 ribu UMKM dengan kemampuan menyerap tenaga kerja hingga 1,6 juta pekerja. Sementara jumlah IKM tercatat sebanyak 96 ribu dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebanyak 259 ribu pekerja. Hampir semuanya berpotensi terdampak pandemi corona, terutama ketika sektor pariwisata melesu akibat pandemi.

Namun, ada beberapa sektor IKM yang justru mencatat pertumbuhan cukup baik di masa pandemi, diantaranya industri logam non mesin, tekstil, makanan dan minuman, jasa reparasi, furniture, dan industri kerajinan.

Menurut Niken, hal ini menunjukan bahwa dalam setiap situasi dan kondisi selalu saja ada peluang jika ada inovasi dan kemauan.

Niken yang juga Ketua International Council for Small Bussinnes (ICSB) NTB ini mengungkapkan, program JPS Gemilang yang dilakukan Pemprov NTB selama tiga bulan berturut-turut, juga cukup membantu meningkatkan kepercayaan diri IKM dan UMKM di NTB di massa pandemi corona.

“Melalui JPS Gemilang ini, kita mencatat setidaknya ada 4.673 IKM/UMKM yang diberdayakan. Bukan saja bisa tetap berproduksi, tapi juga mereka berhasil meningkatkan mutu dan kualitas produknya,” kata Niken.

Menurutnya mengantarkan IKM dan UMKM NTB untuk menembus dan bersaing di pasar nasional harus menjadi semangat dan motivasi bersama, baik Pemda, stakeholders terkait dan para pelaku usaha sendiri.

Dekranasda NTB sebagai mitra pemerintah akan terus mendorong pengembangan IKM dan UMKM sesuai peran dan tupoksinya. Dan untuk mendorong IKM juga UMKM NTB lebih maju lagi, diperlukan juga perubahan pola pikir masyarakat NTB untuk mulai lebih mencintai produk-produk lokal di NTB.

“Kami berupaya membina dan meningkatkan kapasitas IKM/UMKM agar mutu dan kualitas produknya semakin baik. Dan yang terpenting kita terus sosialisasi dan edukasi masyarakat agar mencintai produk lokal kita juga,” katanya.

Istri Gubernur Zukieflimansyah ini juga menyemangati generasi muda, pelaku UMKM/IKM pemula, untuk terus berkarya dan bercita-cita besar ke depan.

Apalagi di masa pandemi ini, juga banyak kebijakan dan program pemerintah yang memberi kemudahan bagi sektor UMKM ini. Seperti stimulus permodalan, pendampingan perizinan, dan keringanan pajak dan lain sebagainya.

“Asal ada kemauan pasti ada jalan. Yang penting harus yakin saat memulai usaha, komunikasikan dan jangan malu bertanya dan belajar kepada yang sudah lebih maju,” katanya.

Niken mengungkapkan, pelaku usaha bisa mencontoh di Korea Selatan. Di negara ini UMKM menyumbang kontribusi ekspor nasional mencapai 38 persen dari total ekspor mereka.

“ Sekitar 99 persen perusahaan di Korea Selatan ini adalah UMKM, dan UMKM ini berhasil menciptakan 89 persen lapangan kerja, dari total lapangan kerja yang tersedia. Ini bisa menginspirasi kita di NTB dan di Indonesia umumnya, bahwa peran sektor UMKM/IKM ini sangat luar biasa,” tandasnya.

Formasi