Mataram – Data penderita Covid-19 di Nusa Tenggara Barat hari ini, dimutahirkan kembali dengan penambahan 11 kasus positif baru, dari 106 sample yang dilakukan swab. Sebagaimana data resmi yang dirilis Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 NTB tertanggal 27 April 2020, bahwa total sementara kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di NTB mencapai 206 kasus. Dengan rincian 23 orang dinyatakan sembuh, 4 orang meninggal dunia dan 179 orang masih menjalani perawatan intensive tim medis dalam kondisi baik.

Total catatan kasus inipun tersebar di seluruh Kabupaten – Kota, dan masih didominasi oleh klatser Gowa Makassar, atau orang yang pernah melakukan perjalanan ke daerah tersebut. Sementara dari total penambahan kasus baru hari ini kembali mengantarkan Kabupaten Lombok Barat sebagai daerah dengan urutan kedua jumlah penderita terbanyak atau mencapai 35 kasus setelah Kota Mataram sebanyak 73 kasus. Kemudian pada urutan ke 3 terdapat Kabupaten Dompu dengan 32 kasus dan urutan ke 4 Kabupaten Lombok Timur dengan 23 kasus.

“Dengan adanya tambahan 11 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19, tidak ada tambahan kasus sembuh, dan tidak ada kematian baru, maka jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai hari ini (27/4/2020) sebanyak 206 orang, dengan perincian 23 orang sudah sembuh, 4 (empat) meninggal dunia, serta 179 orang masih positif dan dalam keadaan baik,” ungkap Lalu Gita Ariadi, Sekda NTB yang sekaligus sebagai Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 NTB dalam keterangan tertulisnya.

Sementara menurut statistik data populasi beresiko yang sudah diperiksa dengan metode Rapid Diagnostic Test (RDT), Pelaku Perjalanan Tanpa Gejala (PPTG) yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Makassar, menempati persentase dengan resiko tertinggi dibandingkan PPTG klaster lain, tenaga medis, Orang Tanpa Gejala (OTG) ataupun Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Sebanyak 522 tenaga kesehatan telah diperiksa dengan hasil tidak ada yang reaktif, 1.093 ODP/OTG diperiksa dengan hasil 47 orang (4,3%) reaktif, dan 1.996 PPTG perjalanan Gowa Makassar diperiksa dengan hasil 451 orang (22,6%) reaktif, serta PPTG perjalanan Bogor diperiksa 101 orang dengan hasil 14 orang (13,9%) reaktif. Semua orang dengan hasil RDT reaktif dilanjutkan pemeriksaan swab sebagai standar pemeriksaan laboratorium untuk penegakan diagnosa Covid-19,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, data lain yang juga turut meningkat yakni jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 483 orang dengan perincian 317 orang (66%) PDP masih dalam pengawasan, 166 orang (34%) PDP selesai pengawasan dan 15 orang PDP meninggal. Untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) terjadi penurunan dari data yang dimutakhirkan sebelumnya, terdiri dari 804 orang (17%) masih dalam pemantauan dan 4.020 orang (83%) selesai pemantauan.

“Jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG) yaitu orang yang kontak dengan pasien positif Covid-19 namun tanpa gejala sebanyak 2.821 orang, terdiri dari 1.892 orang (67%) masih dalam pemantauan dan 929 orang (33%) selesai pemantauan. Sedangkan Pelaku Perjalanan Tanpa Gejala (PPTG) yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid- 19 sebanyak 49.221 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 12.492 orang (25%), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 36.729 orang (75%),” terang Gita Ariadi dalam rilis resminya.

Seiring dengan terus meningkatnya jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19, Pemprov NTB pun semakin memperkuat strategi pencegahan termasuk melokalisasi penderita dari kontak dengan warga lain. Dengan cara melakukan tes swab kepada mereka yang berpotensi seperti ODP, PDP dan PPTG sebagai langkah antisipasi untuk mempercepat identifikasi serta penanganan kasus. Kemudian melakukan mengawasan dan isolasi ketat, serta penanganan medis yang cepat terhadap Pandemi Covid-19.

Selain itu juga terus melakukan sosialisasi melekat, dari seluruh elemen masyarakat hingga ke tingkat desa tentang pentingnya saling melindungi diri dan menerapkan protokol kesehatan yang benar. Pemprov NTB pun memprediksi jika langkah dan upaya tersebut dilakukan secara disiplin oleh warga masyarakat, maka dapat dipastikan pada akhir bulan suci Ramadhan nanti, ancaman virus mematikan ini dapat segera berakhir.

“Tetapi jika masyarakat dan kita semua tidak mampu menerapkan disiplin yang ketat terhadap protokol pencegahan Covid-19 maka penyelesaiannya akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Hal ini selain berdampak pada masalah kesehatan juga akan berdampak besar terhadap kehidupan sosial dan terpuruknya pertumbuhan ekonomi nasional,” tandasnya.

Karenanya itu untuk meningkatkan kedisiplinan pencegahan penyebaran Covid-19 secara lebih luas, maka pemerintah daerah melalui Satuan Polisi Pamong Praja bersama aparat TNI, Polri dan institusi terkait lainnya, terus melakukan penertiban dan penindakan terhadap pelanggaran protokol pencegahan Covid-19.

aNd