Lombok Tengah – Kunjungan kerja Wakil Presiden RI Kyai Haji Ma’ruf Amin berlanjut. Usai meninjau KEK Mandalika Lombok dihari kedua kunjungannya, Wapres langsung menggelar dialog untuk mendengarkan upaya pemerintah daerah dan masyarakat dalam pencegahan stunting.

Wapres yang didampingi istri, Wury Estu Handayani Ma’ruf Amin, menyampaikan apresiasi terhadap program pencegahan stunting yang dijalankan Pemerintah Provinsi NTB. Program Strategis tersebut, selain Revitalisasi Posyandu, diantaranya juga Minum Tablet Tambah Darah (TTD) dalam Kegiatan Aksi Bergizi, Sarapan Bersama, Generasi Emas NTB, Gerakan Buang Air Sembarangan Nol dan Da’i Kesehatan.

Wapres meminta program tersebut terus dilaksanakan dan digencarkan, sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman yang utuh tentang bahaya stunting. Ia meyakini program-program tersebut dapat menurunkan angka stunting di NTB, bahkan nasional.

Wapres mengingatkan bahwa stunting atau kondisi tubuh yang tumbuh kerdil bisa dicegah sejak awal. Yaitu sejak seseorang berada pada masa pra nikah. Sebelum menikah katanya, calon ibu atau bapak ini harus siap. Baik secara mental maupun kemampuan untuk menjaga anak keturunan.

“Jangan pisahkan anak dengan ibunya dari ASI semasih umurnya dua tahun. Sebelum hamil juga harus dipahami, sebelum nikah sudah tau bagaimana menjaga kehamilan, menjaga anak agar sehat,” jelasnya.

Gubernur Zulkieflimansyah juga menyampaikan masalah stunting itu bukan hanya persoalan makanan. Namun ia menilai stunting lebih disebabkan oleh cara pandang. Sebagai contoh katanya, NTB terkenal dengan penghasil lobster terbaik. Para petani lobster selalu memelihara, lalu kemudian dijual, tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Namun, para petani lobster ini katanya lebih memilih makanan lain yang kadar gizinya rendah ketimbang memakan lobster.

“Mudah-mudahan dengan kehadiran Bapak Wakil Presiden di NTB akan memberikan keberkahan dan mampu menurunkan angka stunting di NTB,” harapnya.

Menurut data yang dihimpun, angka stunting di NTB berdasarkan data tahun 2018 menyentuh 33 persen. Sedangkan secara nasional, angka stunting mencapai 27 persen. Secara nasional, tahun 2024 angka stunting di Indonesia ditargetkan menurun hingga 14 persen.

Hms