Lombok Tengah – Satu dari 16 agenda besar pariwisata NTB sedang berlangsung dengan ragam rangkaian kegiatan untuk memeriahkan. Festival Pesona Bau Nyale menjadi calendar event Lombok – Sumbawa, yang mengangkat tradisi budaya masyarakat suku sasak di NTB menjadi bidikan wisata yang tersohor. Karena tidak hanya berpeluang untuk meningkatkan devisa NTB sektor pariwisata, tradisi ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat yang mengambil peran dalam pelestarian kerajinan tangan dan hasil UMKM warga masyarakat disekitarnya

Bau berarti tangkap dan Nyale berarti cacing laut, merupakan sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda dan mempunyai nilai sakral yang tinggi bagi Suku Sasak. Perayaan Bau Nyale berkaitan erat dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di daerah Lombok Tengah bagian selatan. Tahun ini Bau Nyale akan digelar mulai 8 sampai dengan 15 Februari 2020 di Pantai Kuta dan Tanjung Aan Lombok Tengah.

Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah saat menyambut kunjungan jajaran Dekranasda Pusat pada acara dialog Kreatif dikawasan pantai Mandalika Lombok Tengah pada Rabu (12/2), menyampaikan bahwa Festival Pesona Bau Nyale merupakan salah satu event yang dibanggakan NTB karena hanya ada di Lombok.

“Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kami masyarakat Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat yang juga menjadi kebanggaan nasional,” jelas Niken.

Ia menyampaikan NTB yang kaya akan suku dan budayanya memiliki tiga suku besar yaitu Sasak, Samawa, Mbojo. Keanekaragaman budaya dan kearifan lokal berpotensi menjadi salah satu sumber pengembangan ekonomi kreatif yang mendukung pariwisata.

“Semua memiliki kekhasan dan keindahan masing-masing yang kami banggakan. NTB memiliki kekayaan dan potensi yang jauh lebih beragam,” tuturnya.

Selain budaya, NTB memiliki keindahan alam yang luar biasa indah. Kuta Mandalika adalah salah satu dari destinasi super prioritas. Insyaallah tahun 2021 akan menjadi Tuan Rumah MotoGP yang pertama kali di Indonesia.

Dalam dialog kreatif tersebut, Niken menyampaikan bahwa Dekranasda Provinsi NTB akan terus mengkoordinir dan menyiapkan para penenun yang ada di seluruh NTB untuk menggali potensi dari para penenun yang sangat luar biasa.

“Minggu lalu kami dari Kabupaten Bima dan Kota Bima, disana sangat banyak desa-desa yang ibu-ibunya bekerja sebagai penenun dan coraknya sangat indah dan banyak. Mereka dengan gembira menyambut ide-ide bahwa NTB akan menjadi salah satu pusat industri tenun nasional,” tutur Niken.

Melanjutkan pemaparannya, untuk menjadi sebuah industri tentunya saja tidak hanya untuk para penenun, penjahit, desainer, dan model juga diperlukan untuk bersinergi untuk menghasilkan karya yang sangat indah.

Dalam kesempatan yang sama Pengurus Dekranas Pusat Endang Budikarya, mengajak seluruh komponen bangsa untuk terus mengembangkan kerajinan karya budaya dan kearifan lokal NTB. Ia mengharapkan generasi milenial juga tanpa henti untuk mengembangkan karya budaya NTB dan karya budaya Indonesia.

“Kita boleh menuju industri 4.0, namun karya budaya Indonesia akan tetap dan terus melekat dalam setiap insan bangsa Indonesia. Era teknologi adalah sahabat bangsa, melalui genggaman tangan tiada batas pengembangan budaya kita,” jelasnya.

Dialog kreatif ini juga dihadiri oleh Kedutaan Besar Venezuela, Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB, Operation Head Mandalika, Ketua Dekranasda se-NTB, dan beberapa desainer ternama NTB. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan Dialog Kreatif dan Fashion show karya desainer NTB.

Rangkaian Festival Pesona Bau Nyale 2020 kali ini dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Beberapa rangkaian kegiatannya seperti, Photo Contes, Peresean, Kampung Kuliner, Dialog Kreatif dan Mandalika Fashion, Mandalika Fashion Carnival dan Malam Puncak Pemilihan Putri Mandalika serta hiburan rakyat.

Respon positif juga disampaikan oleh Achris Sarwani selaku Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB. Menurutnya, keberadaan Bank Indonesia di setiap Provinsi sangat konsen dengan komoditas unggulan untuk menjadi mesin pertumbuhan di daerah tersebut. Ia melanjutkan bahwa jika berbicara tentang NTB artinya berbicara terkait pariwisata dan kekayaan budayanya.

“Kita tahu, kalau hanya kain tenun nilainya terbatas. Agar nilai tambahnya tinggi, kita harus bisa meningkatkan nilai jual yang lebih besar bagi seluruh masyarakat NTB,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kesejahteraannya masyarakat NTB, keberadaan industri diperlukan agar produk tersebut ready to wear (siap pakai). Industri fashion menurutnya tidak bisa berdiri sendiri, karena membutuhkan kerjainan-kerajinan lain untuk dapat membentuk kolaborasi seni.

“Seperti yang disampaikan Ketua Umum Dekranasda Provinsi NTB, kami bekerjasama untuk membentuk ekosistem industri tadi itu lengkap. Mulai dari penenun, penjahit, desainer, dan yang terakhir dengan modelnya. Artinya kita siap untuk “NTB Goes to Moslem Fashion Industry,” ucap Achris.

Dengan adanya kegiatan ini dan hadirnya Dekranasda Pusat artinya Pemerintah sangat konsen terhadap perkembangan kearifan-kearifan lokal. Oleh karena itu, budaya yang dimiliki NTB harus dikembangkan agar diketahui oleh daerah-daerah lain di Indonesia dan mancanegara.

hms