Sumbawa – Bertahap, program – program unggulan NTB Gemilang yang digagas Gubernur Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah berjalan sebagaimana yang diharapkan. Pencanangan industrialisasi daerah kedepan tidak lagi menjadi mimpi setelah sejumlah pabrik – pabrik pengolahan sumber daya alam diresmikan dan beroperasi. Setelah beberapa waktu lalu meresmikan pabrik pengolahan minyak kayu putih, Gubernur NTB meninjau langsung program Kampung Unggas yang berada di Desa Pernek Kecamatan Moyo Hulu Sumbawa pada Minggu (12/1).

Usaha peternakan unggas ditempat itu yang dikelola PT. Perkasa Group telah mampu menghasilkan 115 tray telur per harinya dari 3.900 ekor ayam.

“Kita bersyukur pengusaha dari Makassar ini memilih NTB (Lombok-Sumbawa) untuk mengembangkan usahanya,” ujar Gubernur Zul dalam rangkaian kunjungan kerjanya Pulau Sumbawa.

Gubernur berharap, kedepannya usaha industri seperti sektor pariwisata, hingga peternakan unggas ayam ras ini dapat lebih berkembang di NTB apalagi dengan enam program unggulan dalam Visi Misi NTB Gemilang yang saling mendukung.

President Commissioner Perkasa Group, Audy Joinaldy, mengatakan Indonesia Timur memiliki potensi dan peluang bisnis yang sangat besar khususnya untuk perunggasan. Banyak perusahaan integrasi yang melakukan ekspansi dan membangun investasi di daerah. Dikatakannya, Indonesia adalah pasar yang sangat besar untuk telur, susu, dan daging. Seiring pertambahan populasi, maka pihaknya optimis permintaan pasar akan terus berkembang. Dengan demikian, secara tidak langsung, permintaan untuk meningkatkan produksi telur, susu, dan daging menurutnya menjadi sebuah keniscayaan. Hal itu juga akan mendorong pengembangan industri pakan ternak, khususnya pakan ayam.

Audy menegaskan karena tingkat konsumsi daging dan telur yang tinggi, NTB belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan masih bergantung daerah lain.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Budi Septiani menyampaikan kebutuhan telur dan daging ayam harus dipasok dari Bali dan Jawa Timur. Sebanyak 600 ribu butir telur per hari didatangkan dari dua daerah tersebut untuk kebutuhan 30 juta butir telur per tahun.

Ia menjelaskan, NTB memiliki potensi peternakan unggas yang cukup menjanjikan. Namun belum mampu memenuhi semua kebutuhan telur dan ayam dalam daerah. Hal itu menggambarkan peluang usaha peternakan unggas sangat menjanjikan di NTB.

Karenanya ia mengajak para Pengusaha memanfaatkan peluang tersebut dan mau mengembangkan investasi di Lombok maupun di Pulau Sumbawa. Disamping investor dari luar, ia juga yakin para pengusaha dan peternak lokal bisa mengambil alih peluang tersebut. Pemerintah daerah didorong agar kabupaten/kota mengembangkan peternakan unggas setidaknya dapat memenuhi kebutuhan telur dan daging ayam di daerah.

Dari data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, populasi unggas di NTB per 31 Desember 2018 menunjukkan, populasi ternak unggas mencapai 48,6 juta ekor. Terdiri dari 782 ribu ekor ayam kampung; 5,5 juta ekor ayam pejantan; 3,2 juta ekor lebih ayam petelur; dan 39,1 juta ekor lebih ayam pedaging.

Sementara data tingkat konsumsi protein daging unggas, telur maupun sapi sepanjang tahun 2018, konsumsi daging ayam beku 45.906 kg, daging sapi beku 215.759 kg, daging kambing beku 500.000 kg, dan telur ayam ras 30.501.650 butir setahun.

Sementara konsumsi daging sapi olahan 39.930 kg, daging ayam olahan 73.397 kg, jeroan 1.500 kg, daging bebek beku 4.800 kg. Juga dalam bentuk butter cheese atau keju 28.800 kg, susu 144.160 kg, dan olahan susu atau yogurt 2.209 kg.

Hms