Lombok Barat – Bagi yang hendak ke Kabupaten Lombok Utara (KLU) baik untuk berwisata, mengunjungi sanak kerabat atau bekerja, jalan raya Pusuk adalah yang paling banyak dipilih pengguna jalan. Selain lebih dekat dari Kota Mataram dibanding alternatif jalan lain seperti Senggigi, wilayah yang kaya oksigen karena lebatnya pepohonan tropis ini merupakan salah satu wilayah di Pulau Lombok yang terkenal sebagai penghasil air nira atau yang oleh masyarakat setempat disebut tuak manis. Selain itu, daerah ini juga menjadi habitat bagi binatanh monyet yang tak jarang menarik wisatawan untuk singgah.

Karena cukup terkenalnya suaka alam dan habitat monyet ini dikalangan masyrakat maupun wisatawan, Desa Pusuk Lestari Lombok Barat (Lobar) sedang bersiap menuju desa wisata berbasis industri lokal. Kepala Desa Pusuk Lestari H. Junaidi saat ditemui pada Selasa (12/11) mengatakan jika desanya, ditetapkan menjadi Desa Wisata oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat. Penetapan inipun menuntut kerja keras sehingga bukan hanya sebutan sebagai desa wisata tetapi juga the real desa wisata yang mampu mengundang wisatawan lokal, domestik, dan internasional.

Junaidi pun melirik potensi desanya sebagai penghasil air nira dan memiliki banyak monyet. Menurutnya, 90 persen dari sekitar 800 KK warga Pusuk Lestari adalah petani. Sekitar 400 KK di antaranya bekerja mengambil air nira atau tuak manis (nyadep). Aktivitas nyadep tersebut akan dijadikan salah satu dari aktivitas pariwisata Desa Pusuk Lestari.

“Bagaimana supaya terkemas menjadi wisata berbasis industri aren, yaitu cara memproses air nira menjadi gula batok, gula semut, gula meriket, termasuk gula cair,” ujar Kades.

Untuk aktivitas pengolahan air nira menjadi bermacam bentuk ini, dilakukan selain oleh sebagian besar masyarakat menggunakan cara tradisional, Pusuk Lestari juga dibantu oleh pihak swasta.

Aktivitas ini dilakukan agar wisatawan tidak hanya merasakan nikmatnya minum tuak manis tapi juga mengikuti bagaimana proses nyadep.

“Sudah disiapkan tempatnya sebagai aktivitas masyarakat yang tinggal di perbatasan Lombok Barat dan KLU,” ujar Junaidi.

Terkait dengan habitat monyet yang juga menjadi pelengkap wisata, pihak desa akan berupaya mengubah cara memberikan makanan buat monyet, dari yang sebelumnya di pinggir jalan dengan resiko mengganggu lalu lintas akan dibuatkan satu lokasi khusus.

“Kami sudah menyiapkan tempat untuk memberikan makanan monyet itu. Tempat yang disiapkan, berada dua atau tiga ratus meter dari pinggir jalan yaitu masuk ke wilayah hutan. Selain itu, Pusuk Lestari juga telah menyediakan jalur sepeda gunung sepanjang sekitar 1.400 meter di sekitar hutan Pusuk. Dan itu akan kami jual untuk mendukung paket desa di wilayah desa perbatasan,” ujar Junaidi.

Menurut data, masing-masing kepala keluarga yang berprofesi menyadep tuak manis mampu menghasilkan minimal 10 liter perhari atau sekitar 4.000 liter per hari. Sementara peminat tuak manis bukan hanya dari mereka yang berekonomi menengah ke bawah tetapi juga menengah ke atas karena dipercaya baik bagi kesehatan. “Keluhan karena tuak manis menggunakan botol bekas ke depan akan ditanggulangi. Caranya dengan menyediakan paket minum tuak manis yang masih alami di dalam bumbung-nya. Yang alami (baru) turun langsung dari pohonnya,” tegasnya.

Desa Pusuk Lestari memiliki empat dusun yaitu Batu Penyu, Kedondong Bawak, Kedondong Atas dan Dusun Pusuk. Masing-masing dusun selain mengandalkan tuak manis, juga memiliki potensi wisata lainnya.

Dusun Batu Penyu, misalnya, memiliki daya tarik berupa air terjun musiman dan pohon-pohon langka gaharu. Termasuk buah nangka, melinjo dan duriannya.

“Akan dibuat agrowisata meskipun bersifat musiman seperti ketika musim durian dengan menjual paket durian. Misalnya lima puluh ribu (rupiah) makan durian sepuasnya,” ujar Junaidi menyampaikan idenya.

Selain tuak manis, Pusuk Lestari juga memiliki andalan yang bisa dikonsumsi lainnya seperti kue bantal (tekel), umbi-umbian dan buah-buahan. Selain itu, khusus di Kedondong Atas memproduksi Krepek Gadung yang sudah menjadi penghasilan tetap beberapa warga. Produk-produk yang dihasilkan selain didistribusi melalui warung-warung di Pusuk dan beberapa supermarket, produk gula semut misalnya, telah dikirim ke luar daerah seperti ke Bima dan Sumbawa.

Hms