Mataram – Warga Nusa Tenggara Barat kini harus mewaspadai temuan penjualan minyak goreng bekas yang diduga berasal dari hotel, restauran, waralaba, dan rumah makan, sejalan dengan tumbuhnya pembangunan investasi disektor pariwisata. Bila digunakan kembali untuk mengolah bahan makanan dapat membuat tidak higienis, memicu dampak penyakit berbahaya, seperti kanker dan sejenis penyakit lainnya, serta tak terjamin kualitas mutu dan kehalalannya.

Para ahli kesehatan pun memberikan peringatan keras tentang penggunaan minyak goreng bekas ini. Dimana setiap tetes minyak goreng yang telah digunakan lebih dari 2 sampai 3 kali, mengalami denaturasi yang berakibat pada komplikasi kesehatan bagi setiap yang mengkonsumsi. Namun meski tak layak dikonsumsi, minyak goreng bekas jangan langsung dibuang. Minyak goreng bekas dapat dimanfaatkan menjadi bioenergi atau bahan bakar nabati yang disebut dengan biodiesel. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan CV. Lumintu Energi Persada di NTB, yang kini terus aktif berinovasi memberikan manfaat dari limbah minyak goreng bekas menjadi energi atau bahan bakar yang ramah lingkungan.

Kepala Cabang CV. Lumintu Energi Persada Bali Nusa Tengara, Ismu Waluyo mengatakan, sejak dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Gubernur NTB pada April 2018 lalu, perusahaan swasta ini di rekomendasikan oleh Pemprov NTB untuk melakukan kerjasama kepada para pelaku usaha hotel restoran, gerai, waralaba dan industri kecil penghasil minyak goreng bekas atau UKM lainnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir adanya pemanfaatan kembali minyak goreng bekas oleh pelaku usaha industri olahan pangan dan masyarakat.

“Sebagaimana hasil dari rapat lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan juga stake holder terkait, telah menetapkan serta memberi dukungan kepada CV. Lumintu Energi Persada. melakukan pengelolaan minyak goreng bekas. Inisiatif ini dianggap penting guna memberi pengaruh pada kesadaran masyarakat akan bahaya penggunaan minyak goreng bekas,” ucapnya saat dikonfirmasi di Mataram pada Kamis (29/8).

Dalam berita acara hasil keputusan rapat pembahasan permohonan rekomendasi pengelolaan minyak goreng bekas di provinsi NTB oleh CV. Lumintu Energi Persada pada 14 Februari 2018, juga disimpulkan bahwa semua peserta rapat mendukung rencana dan inisiatif perusahaan untuk mengumpulkan minyak goreng bekas menjadi biodiesel.

Ismu menegaskan pada rapat tersebut juga diterangkan jika pihaknya diberi mandat untuk menugaskan petugas khusus untuk menyiapkan sarana dan prasarana pengangkutan minyak goreng bekas. Sesuai dengan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) dalam proses eksekusi minyak goreng bekas.

Upaya ini juga sejalan dengan peringatan Dinas Perdagangan Provinsi NTB untuk menindak dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku usaha, karyawan hotel, restoran dan masyarakat yang kedapatan melakukan aktivitas memperjualbelikan minyak goreng bekas. “Oleh Karna itu CV. Lumintu Energi Persada memulai langkahnya secara aktif melalui pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku usaha, kemudian mengumpulkan minyak goreng bekas tersebut sebagai bahan baku biodiesel yang ramah lingkungan,” tandasnya.

Dbd